Postingan

Menampilkan postingan dengan label Catatan Kecil

Nada Hujan

Gambar
"Rintik hujan itu sendu. Aku menyukainya hingga ke lubuk hati. Kau dengar? Suaranya amat menenangkan. Anginnya sejuk. Semua beban serasa terangkat." Aku bergelung pada badanku, mendekap tanganku yang dingin sedari hujan turun malam tadi. Ia hanya melirikku sebentar, lalu menatap lagi butir air di kaca jendela. "Kau yakin? Bahkan saat petir menggelegar dan angin bertiup kencang?" Aku menggangguk. "Tidakkah kau pernah dengar pepatah 'Badai pasti berlalu'? Sekencang apapun badainya, semua akan mereda. Sekeras apapun aral yang kau hadapi, pada akhirnya semua akan membaik. Tinggal bagaimana kau menanggapinya," timpalku. "Itu judul lagu sayang, bukan pepatah." Ia tertawa kecil. Lalu bersandar manja pada pundakku. "Maukah kau menjadi rintik hujanku?" tanyaku berbisik padanya. Ia mengangguk. ***

Aku Sempurna

Gambar
Semua mendambakan kesempurnaan, dalam dunia yang menurutnya tidak sempurna. Jika dunia ini saja menurutnya tak sempurna, apa yang mereka harap Tuhan berikan padanya? Kesempurnaan? Pepatah mengatakan, rumput tetangga akan selalu terlihat lebih hijau. Entahlah tetangga yang mana. Pastinya buat sebagian besar dari kita, melihat orang lain dan membandingkannya dengan diri sendiri adalah hal yang umum. Jikalau tubuh kita pendek, maka mata akan melirik iri orang lain yang tingginya menjulang seperti galah. Atau jika kulit kita gelap, maka mata akan memicing sebal melihat orang lain yang berkulit terang layaknya model iklan sabun dari Korea. Wajar memang karena manusia--kabarnya--tak pernah puas. Topik ini memang umum, semua orang punya keinginan yang sama tentang kesempurnaan, bahwa mereka semua menginginkan itu. Semua orang mendambakan kesempurnaan. Tapi, apa semua orang punya konsep yang sama? Tentang sempurna dan kebalikannya? Mari...

Sebuah Tanya, Untuk Ibu

Pernah aku bertanya pada ibu, "Apa maknanya aku untukmu?" Ibu tersenyum dan melontar balik tanyaku, "Apa maknanya juga aku untukmu?" "Seperti jantungku, kau lebih berharga dari itu," jawabku. Lalu ibu mengelus lembut rambutku dan balas menjawab, "Kau hidup dari darahku, maka kau adalah aku. Seperti itulah kau bagiku." (Hanya sebuah syair, dari dalam kamar sunyi).

Tembok Besar Itu Bernama Takut

Memulai langkah pertama adalah ibarat menembus tembok batu yang kita sama sekali tak tahu gerangan yang tersembunyi dibaliknya. Ibarat menulis, tembok besar itu akan selalu ada, menghadang di awal kata. Aku bukan orang pemberani. Setidaknya itu yang terasa saat akan memulai sesuatu yang asing, yang baru, yang aku tak tahu sedikitpun tentangnya. Di luar semua itu aku bahkan tak bisa membayangkan kira-kira seperti apa rasanya. Seorang bijak pernah berkata, hal terpenting untuk memulai sesuatu adalah langkah pertama. Tanpa itu kau tak akan menemukan langkah kedua, ketiga, apalagi keseribu. Namun seperti perkataan pengecut-pengecut di luar sana pun, langkah pertama tidaklah ringan. Ada semacam batu berat yang mengganjal di atasnya, begitu kata mereka. Tak semudah kata-katamu wahai si bijak, begitu lagi kata mereka. Dan aku mungkin salah satu dari si pengecut itu. Ada semacam ketakutan tentang bagaimana hal-hal baru itu—yang akan kita lewati—akan berdampak pada diri kita. A...

Ketenangan Hidup

Gambar
Apa itu cita-cita? Sebagian kami menjawab cita-cita itu adalah tujuan hidup, titik terang dalam lorong gelap panjang kehidupan mereka. Sebagian kami yang lain berceloteh bahwa cita-cita adalah proyeksi kekaguman pada sesuatu, seseorang, atau apapun yang berujung pada sebuah pengabdian atau profesi. Atau apalah yang terlihat mengagumkan di mata kami. Lalu buat sebagian kami lagi, cita-cita hanyalah jawaban singkat satu kata atas pertanyaan sang guru, “Apa cita-citamu Nak?” Dan aku tak pernah menjawab pilot. Dan aku tak pernah menjawab presiden. Dan aku tak pernah menjawab insinyur. Karena bukan itu yang jiwaku butuh. Aku menjawab, “Menjadi tenang, mungkin,” dalam hati. (Saat semua dulu tak menganggapku kawan, saat semua dulu tak menganggapku lawan. Saat semua dulu hanya menganggapku guyonan). Kemudian beranjak kaki melangkah, mengayun perlahan lalu berganti cepat, aku menyusuri waktu. Aku menyusuri lorong gelap hidup. Dengan obor, dengan mata batin. “Mana ketenangan hid...

Mereka Wanita-wanita Hebat!

Gambar
4 Juni 2011, 1:11 Dari awal tayangan itu muncul, aku sudah begitu terpukau olehnya. Wajahnya penuh percaya diri, cara jalannya sungguh gemulai, cara bicaranya amat meyakinkan, dan pemikirannya menyiratkan wanita berkarakter. Dan di akhir tayangan, tak mengejutkan buatku jika ke dirinyalah mahkota itu akhirnya tersampir. Sungguh, wanita yang amat menginspirasi. Congrats, Puteri Indonesia 2011! Aku tahu ini bukan bulan april. Tapi, tak ada salahnya bukan kita membahas sedikit tentang kaum Hawa yang  empowering ? Tentang wanita-wanita yang hidupnya amat berarti buat orang-orang sekitarnya dan wafatnya pun dipenuhi kehilangan. Dunia mencatat sejak dulu telah lahir berjuta-juta wanita berjiwa kuat yang akhirnya amat berpengaruh bagi dunia. Pemikiran mereka bertahun-tahun lebih maju dibanding zamannya, perjuangan mereka berkali-kali lebih gigih dibanding orang lain sekitarnya, dan hati mereka  lebih lembut dibanding belaian angin lembah.   Dulu, ada Siti Hajar ...

Jalan Baru, Semangat Baru!

Gambar
Diko berjalan perlahan menuju jalan besar. Pagi ini, matahari tampak lebih bercahaya dibanding pagi-pagi mendung sebelumnya. Awan hujan sudah tak tampak dan genangan air di aspal jalan pun perlahan mengering. Langkah sepatu Diko menjadi jelas berbunyi jejak, langkahnya terseret. Wajahnya tak terlalu menujukkan cercah cahaya seperti matahari pagi hari ini. “Pagi Nak. Cerah sekali ya pagi ini.” sapaan Pak Tua, tetangga sebelah blok rumahnya, mengagetkan Diko. Diko hanya tersenyum mengangguk. “Iya Pak, cerah,” jawab Diko sekenanya. Tak ada yang menarik, pikir Diko dalam hati. Tak ada yang berubah. Pak Tua yang memang senang berjalan-jalan pagi mengitari komplek rumah, mengiringi langkah Diko. Diko tak acuh karena tiap pagi pun Pak Tua melakukan hal yang sama. “Kau sakit, Nak?” tanya Pak Tua lagi. Diko menggeleng. “Tapi wajahmu kuyu,” Pak Tua berkata santai. Tangannya masih semangat bergerak ke depan-ke belakang. “Aku hanya bosan, Pak.” Pak Tua mengerling Diko, b...

Misteri Matinya Si Burung Gereja

Gambar
Hari ini sekitar jam 10 tadi pagi seekor burung gereja mati tenggelam di bak mandiku, terapung dengan posisi paruh terendam air dan kedua sayap yang tak mengembang, mengatup seperti kedinginan. Bangkainya belum mengeluarkan bau. Jelas. Ia baru mati beberapa saat. Mungkin sejam yang lalu sebelum  saya temukan. Saya tak tahu kenapa. Jarang ada burung yang masuk kamar mandi yang itu. Juga kamar mandi lainnya. Saya lebih sering menangkap basah kodok sawah hijau lumut menjijikkan yang sedang asik berenang di lubang WC atau nangkring siap nyebur di pinggir ember bak mandi. Sungguh membuat jengah. Kadang butuh waktu berjam-jam membuat kodok jelek itu pergi dengan sendirinya dari kamar mandi. Mereka biasa mampir saat malam sampai subuh dan menghilang lagi ketika matahari muncul. Saya masih heran, tak habis pikir mengapa burung mungil itu sampai mati di bak mandi kosan. Malang nian. Tak terpikirkah olehnya akan mati disana? Saya yakin, jika diminta, ia akan memilih mati di saran...

Kakiku Juga Cuma Satu, Kawan

"Daripada merutuki panas terik, bukankah berteduh atau mengembangkan payung diatas kepala itu lebih baik?" Disuatu kota tinggalah dua orang teman dekat bernama Bambang dan Tarjo. Bambang berbadan besar dan gendut. Sedangkan Tarjo berbadan sedang. Bambang tak dapat melihat dan Tarjo hanya punya satu kaki. Cepat sekali mereka berdua akrab ketika pertama kali bersua karena Tarjo tak pernah meledek  Bambang, begitu pula sebaliknya. Mereka saling mendukung, saling menghormati. Suatu hari, Bambang meminta Tarjo menemaninya membeli celana. Karena tak ada penjual jasa tempa pakaian, Bambang tak dapat menempa pakaian. Ia terpaksa pergi ke toko walau tahu kemungkinan mendapat celana seukurannya tidak gampang. Ketika sampai di toko pertama, Bambang bertanya pada penjual di toko,”Apa di toko ini ada celana untuk ukuran saya?” Sambil menepuk-nepuk pahanya, menunjukkan kalau ukuran celananya besar luar biasa. Ia yakin tanpa melihat nomor celana pun si penjual pasti tahu ukura...

Tak Tahu, Maka Tak Paham

Gambar
Saya bukan orang penyabar. Jadi, ketika ada hal di sekitar yang mengganggu atau tidak sesuai kehendak dan suasana hati, gampang sekali kepala ini naik pitam. Walau tak meledak kemana-mana, tapi dari raut wajah sudah amat terlihat bahwa saya sedang marah. Mendongkol kata orang. Tak sedap sekali memang jika melihat wajah sendiri ketika cemberut dan kerut kening jadi satu ketika marah. Apalagi jika badan memang sedang lelah sehabis beraktifitas dan panas-panasan sepanjang jalan. Belum lagi debu menempel campur keringat. Tambah bikin suasana “panas”. Kerap ketika ada orang yang ngebut saat mengemudi, merokok di kendaraan umum, atau membakar sampah di pagi hari saat orang-orang hilir mudik ke kantor atau sekolah dan amat butuh udara segar, wajah ini langsung merah. Ingin meledak, tapi tak bisa. Karena pembawaan saya yang memang tak suka menegur langsung orang, akhirnya saya hanya diam. Menampakkan muka cemberut ke arah orang-orang menyebalkan itu. Dalam hati sumpah serapah ...

Kita Semua Sempurna

Gambar
“ God loves us equally, but He threats us differently. And He gives us what we need not what we want ” Diceritakan ada seekor siput dan seekor kaki seribu yang berkawan dekat. Mereka tinggal di hutan rimba dengan pohon rindang dimana-mana. Meski berteman, ada satu hal yang membuat mereka kadang iri satu sama lain. Siput berjalan amat lambat.  Ia terus memperhatikan jumlah kaki si kaki seribu yang tak terhitung banyaknya. Si kaki seribu pun dapat berjalan sangat cepat. “Kakimu amat banyak kaki seribu. Andai aku punya banyak kaki sepertimu. Ya, tak perlu sebanyak punyamu memang. Beberapa pasang saja sudah cukup kurasa agar aku dapat berlari cepat jika suatu  saat dikejar-kejar elang,” kata siput suatu hari. “Andai bisa kuberikan padamu beberapa pasang, pasti akan kuberi, teman,” jawab kaki seribu. Ia menghela napas, “Sebenarnya akupun ingin sekali punya cangkang kokoh seperti punyamu. Lihat? Aku hanya bisa berlari kencang. Ayam-ayam hutan diluar sana bah...