Botol-botol Bunggar
Tak ada yang kenal siapa itu Bunggar. Semua orang yang berlalu lalang di terminal tempat Bunggar sering bermalam tak pernah barang sedikit meliriknya. Supir-supir itu, pedagang-pedagang asongan itu, calo-calo itu. Satupun tak ada yang mau tahu siapa itu Bunggar. Mereka hanya tahu bahwa lelaki renta beruban dan bungkuk itu tiap hari bercokol di kejamnya kota dengan memungut botol-botol plastik bekas. Tak pernah ada yang tahu siapa itu Bunggar. Bahkan ketika mayatnya kini tergeletak di bawah pohon beringin di pinggir danau itu pun, tak ada yang tahu. Hanya lalat-lalat hijau yang sadar ada tubuh membusuk disana. Sampai di akhir hayatnya, tak pernah sekalipun Bunggar merasa berarti. Maka, bingung sekali ia ketika ditanya, ”Apa yang telah kau lakukan seumur hayatmu?” oleh pria berwajah putih bersih dihadapannya. Badannya yang bungkuk terpaksa ia tegakkan sedikit karena pria ini dua kali lebih tinggi darinya. Jubah putih melilit sepanjang tubuh pria bertudung itu yang keseluruhan badannya me...