Botol-botol Bunggar

Tak ada yang kenal siapa itu Bunggar. Semua orang yang berlalu lalang di terminal tempat Bunggar sering bermalam tak pernah barang sedikit meliriknya. Supir-supir itu, pedagang-pedagang asongan itu, calo-calo itu. Satupun tak ada yang mau tahu siapa itu Bunggar. Mereka hanya tahu bahwa lelaki renta beruban dan bungkuk itu tiap hari bercokol di kejamnya kota dengan memungut botol-botol plastik bekas.

Tak pernah ada yang tahu siapa itu Bunggar. Bahkan ketika mayatnya kini tergeletak di bawah pohon beringin di pinggir danau itu pun, tak ada yang tahu. Hanya lalat-lalat hijau yang sadar ada tubuh membusuk disana.

Sampai di akhir hayatnya, tak pernah sekalipun Bunggar merasa berarti. Maka, bingung sekali ia ketika ditanya, ”Apa yang telah kau lakukan seumur hayatmu?” oleh pria berwajah putih bersih dihadapannya. Badannya yang bungkuk terpaksa ia tegakkan sedikit karena pria ini dua kali lebih tinggi darinya. Jubah putih melilit sepanjang tubuh pria bertudung itu yang keseluruhan badannya memendar.

Bunggar menggeleng. Ia tak pernah melakukan apapun selain berjalan tertatih-tatih dan membungkuk tiap kali melihat botol plastik bekas didepannya, mencomot. Lalu berjalan tertatih-tatih lagi ke tempat karung lusuhnya tergeletak di pojok terminal. Maka karena hal itu ia bertubuh bungkuk.

Lalu, apa yang akan ia bilang?

“Aku memulung botol plastik bekas,” jawab ia pada akhirnya. Pria berjubah itu mengangguk pelan lalu melemparkan sekarung besar penuh dengan entahlah ke arah Bunggar. Karung itu beribu kali lebih besar dari karung miliknya semasa hidup. Saking besarnya, Bunggar tak dapat melihat pria itu. Ia menggeser karung itu sedikit. Tercengang. Karung ini ringan?

Dihadapannya kini terlihat lagi pria berjubah. Pria itu kini tersenyum, “Bukan isi karung ini yang ringan, tapi tanganmu yang kuat. Berat karung ini mungkin lebih berat dari dunia dan isinya,” kata pria itu.

Ia lalu menjetikkan jari dan kini telah berdiri dihadapan Bunggar serupa seekor kuda, lembu, kerbau? Tak tahulah, tapi yang pasti kakinya berjumlah empat, badannya besar dan kokoh, dan kulitnya mengkilap. Bunggar tak pernah melihat hewan seperti ini sebelumnya.

“Naiklah,” perintah pria berjubah. Hewan besar itu merendahkan badan, lalu dengan ragu-ragu Bunggar menaiki pedalnya, meloncat mantap ke atas punggung kokoh hewan.

“Apa yang telah kau lakukan seumur hayatmu?” tanya pria itu lagi. Bunggar diam. Apa tadi suaranya terlalu kecil sehingga jawabannya tak terdengar? Tak mungkin, tempat ini begitu sunyi. Lalu, apa yang akan ia jawab lagi?

Belum sempat Bunggar berpikir apa yang akan ia perjelas dari jawabannya tadi, hewan besar kokoh yang didudukinya ini sudah melaju kencang. Bunggar tersentak kaget, langsung berpegang erat pada tali kekang. Dilihatnya pria tadi juga bergerak cepat mengikutinya, dua sayap besar mengepak cepat dipunggung si pria. Bunggar tak ambil pusing lagi. Semua yang ada disini serba aneh, pikirnya. Karung super besar tadi terikat kuat di belakang hewan besar ini. Di kiri-kananya kini hanya terlihat kilatan cepat kerlap-kerlip cahaya. Angin kencang menampar wajahnya berkali-kali.

Kemudian angin-angin ini bergerak makin pelan, lalu menjadi panas dan bau karena asap kendaraan. Debu beterbangan di wajahnya dan badannya berkeringat peluh karena panas.

Suasana terminal ramai luar biasa. Pemudik hilir-mudik mencari angkutan. Ratusan mungkin tiap jamnya orang-orang turun-naik bus menuju kampung halaman. Puluhan lagi masih duduk-duduk menunggu. Bunggar sendiri berjalan tertatih-tatih. Terbungkuk-bungkuk. “Hanya mimpi,” batin Bunggar.

Ia tak buang waktu. Disepanjang terminal kini berserakan plastik-plastik bekas minum, bertebaran tak tentu, sebagian diterbang-terbangkan angin. Bunggar berjalan tertatih-tatih lagi memunggut. Terbungkuk-bungkuk.

“Air, Mas?” seorang pedagang asongan menawarkan dagangannya ke salah satu penumpang bus. Bunggar cepat menoleh. Biasanya ia akan mencari orang yang membeli minuman, menunggu sampai isi botol itu habis, dan memerhatikan dengan benar kemana botol itu dibuang. Ia melihat penumpang itu. Hanya penumpang itu karena hanya dia yang duduk dalam bus antarkota di depan Bunggar. 

Pemuda itu menggeleng sopan sambil mengatupkan kedua tangan, menolak. Pedagang itu sedikit memaksa dan Bunggar harap-harap cemas menunggu anggukan kepala si pemuda. Tapi pemuda itu tetap menggeleng.

Bunggar menghela lemas. Ia kembali berjalan tertatih-tatih, menunduk, menyerok-nyerok tong sampah. Satu-dua dicomotnya botol-botol bekas. Kemudian ia berjalan lagi.

Bus-bus masih hilir mudik di sampingnya. Berhenti, lalu berjalan lagi. Angin panas berbau bensin menyapu wajahnya lagi. Debu-debu beterbangan. Angin-angin panas itu beterbangan makin kencang, memukul-mukul wajahnya dan perlahan udara disekitarnya menyejuk dengan angin kencang yang masih menampar-nampar dan kerlap-kerlip cahaya?

Di sisi kirinya kini sudah sejajar dengan dirinya si pria berjubah—yang kini juga tetap terlihat bersayap—terbang sama cepatnya dengan lari si hewan tunggangan Bunggar. Si pria tersenyum, menoleh pada Bunggar.

“Ingat kapan itu terjadi?”

Bunggar menggeleng. Tapi kurasa aku ingat wajah pemuda tadi, satu-satunya penumpang di bis yang setiap harinya harus berjubel .

“Agar pemuda itu dapat melihatmu lebih lama, maka tak boleh ada penumpang lain di bis itu sampai ia benar-benar mengerti apa yang Tuhannya ilhamkan. Sampai akhirnya seliweran mobil menutupi jarak pandang si pemuda padamu, barulah bis itu penuh dengan rombongan dan mulai meninggalkan terminal. Dan sejak itulah amal baik mengalir amat banyak padamu.” Si pria berjubah berkata. Bunggar menoleh lekat padanya. Apa yang kau bilang? 

“Ya, itu yang baru saja aku bilang. Karena kau, pemuda itu akhirnya menelepon kakeknya lagi. Kakek yang merawatnya dari bayi karena ibu dan ayahnya tewas dalam kecelakaan motor dan sejak belajar di tempat yang jauh, tak pernah sekalipun ia menyurati kakeknya. Dengan alasan sibuk, tak ada waktu, bahkan sampai bani Adam telah menemukan barang yang kalian sebut ponsel itu, ia masih tak pernah menyapa kakeknya.

“Kau tahu? Kakeknya gembira bukan kepalang saat sang cucu mengabarkan dirinya. Ia nyaris melompat-lompat di kotak telepon wartel kalau saja tak ingat encok di pingganggnya baru saja kumat tadi malam. Dan sejak itu doa-doa makin kencang keluar dari mulut sang kakek untuk cucu tercintanya. Cucu satu-satunya yang tak henti-henti ia panjatkan doa keselamatan untuknya di perantauan. Maka, si pemuda dengan izin Tuhan dapat menyelesaikan sekolah dengan lancar, nilai terbaik, dan akhlak yang makin terpuji. Ia amat cepat berkembang menjadi sukses. Cita-citanya menjadi peneliti melahirkan karya-karya paling bermanfaat bagi semesta. Amal jariyah—amal balasan—berdatangan tak kenal pagi-siang padanya. Dan padamu.”

Bunggar hanya diam mendengarnya. Kemudian, seberkas sinar agak menyilaukan tajam menyorot Bunggar. Matanya melihat ke depan, ke arah petak persegi panjang bersinar emas. Sinar itu makin silau, silau, dan BYARRR!

Lampu sorot pasar malam ganti menghadap Bunggar. Mata Bunggar menyipit, tangannya mencoba menghalang sinar. Lampu sorot itu berputar lambat mengitari arena pasar, seperti mercusuar. Di sekitarnya suasana riuh pengunjung pasar malam penuh menemaninya sejak maghrib datang sejam lalu.

KREKK!

Bunggar mencari asal suara. Ia tahu betul bunyi tadi—bunyi segel minuman botol plastik yang dibuka. Kepalanya tertuju pada anak perempuan berkuncir kuda tak jauh didepannya. Si anak mungkin masih SMP, tingginya saja tak bisa menggapai keranjang basket mainan didepannya. Sudah dua kali bola plastik yang ia lempar melental entah kemana, skornya masih kosong.

Bunggar hanya mengawasinya. Ia tak peduli berapa nilai yang harus didapat si anak agar kertas-kertas berwarna dengan poin-poin itu dapat dimilikinya karena yang ia perlukan hanya botol kosong yang sekarang tergenggem erat di tangan si anak.

BLETAKK!

Botol itu melental, mengenai tiang wahana lain. Si anak berkuncir mendecak kesal ternyata, melempar kesal botol kosong minumnya ke keranjang dan hasilnya sama nilihilnya dengan bola-bola yang ia lempar. Penjaga wahana basket hanya menggeleng, sibuk mengumpulkan kembali bola. Bunggar berjalan pelan, tertatih, mengambil botol kosong yang dilempar si anak.

BYARRR!

Cahaya lampu sorot mengarah pada Bunggar lagi. Entah sudah berapa kali lampu itu berputar. Bunggar menyipit lagi, berharap sebentar kemudian lampu itu akan menyorot tempat lain.

Namun tak ada lampu sorot yang berputar lagi. Angin kencang mulai menerpa wajah Bunggar. Perasaan yang sama seperti tadi. Bunggar menolehkan kepalanya ke kiri karena sinar yang makin silau.

“Matamu tak akan buta karena sinar itu. Justru sinar itu yang dicari hampir semua makhluk.” Bunggar sudah tidak terkejut. Ia masih di tempat aneh itu—dengan lampu kerlap-kerlip bergerak cepat di kiri-kanannya—dan pria itu masih disampingnya. Tapi, kini ia terbang di kanan Bunggar.

“Bukan hanya kali itu anak perempuan tadi pergi ke pasar malam tadi. Ibunya tak pernah sadar bahwa anak perempuannyalah yang sering mengendap-endap mencuri uang di kaleng jualannya. Berapalah untung warung kecil yang hanya menjual jajanan anak SD? Apalagi ditambah foya-foya di pasar malam hanya untuk permainan.

Kau menguntitku? Bunggar mengernyitkan dahi.

“Aku tak menguntitmu. Aku mengawasimu. Dua kata yang berbeda bukan? Sama seperti ketika kau mengawasi anak itu, lalu memastikan dimana ia membuang botol minumannya. Aku mengawasimu. Pun anak itu, diam-diam.

“Setelah kesal dengan bola-bola basket tadi, ia bingung akan bermain apa karena kehabisan uang. Ia akhirnya melihatmu mengambil botol minumnya dengan tertatih-tatih dan ilham Tuhan menelusup ke relung hati si anak saat itu juga dengan mudahnya. Dengan mudahnya. Kau tahu betapa sulitnya mencari sesuap nasi bukan? Begitu pulalah pemahaman yang didapat si anak.

“Dan Tuhan menjadikan anak itu manusia yang amat menghargai jerih payah, amat menghargai uang. Ia tumbuh menjadi anak yang berbakti pada orangtua dan saat ia mulai pandai berbisnis, warung ibunya dalam setahun berubah menjadi toko besar. Dari toko itu ia mempekerjakan banyak orang. Amal jariyah berdatangan tak kenal pagi-siang padanya. Dan padamu.”

Lari si hewan tunggangan Bunggar melambat. Cahaya didepan Bunggar juga makin redup, namun mata Bunggar masih menyipit. Ia tak percaya cahaya itu tak akan membutakan matanya.

Lalu, hewan itu benar-benar berhenti. Wajah Bunggar kebas. Ia tak bergerak dari posisinya tadi.

“Turunlah,” ajak si pria berjubah. Bunggar bergeming. Apa yang terjadi kalau ia turun?

Tiba-tiba semerbak wangi entah apa menusuk hidung Bunggar. Aromanya begitu segar, begitu amboiii.... Bunggar mengendus-endus, lalu menghirupnya dalam-dalammm....

“Bisa gak sih dia cari kerja yang lebih terhormat? Orang buta juga tahu kalau badan sehatnya sudah lebih dari cukup untuk mendapat uang dari sekedar hanya mengadahkan tangan. Dasar pemalas!” Pria gendut didepannya mengumpat tajam, mengarahkan pandangan tak sukanya pada peminta-minta yang baru saja ia tolak mentah-mentah. Bukan cuma gelengan yang ia berikan, tapi kata-kata “Gak ada duit!” menyerapah keluar. Penjual bunga di tempat Bunggar biasa duduk-duduk pagi itu hanya senyum-senyum tanpa komentar. Setelah itu si pria gendut mengeluarkan selembar puluhan ribu rupiah—jelas-jelas ia punya uang—lalu menyerahkannya pada si penjual bunga. Bunggar hanya memerhatikannya dari serambi toko bunga. Senang sekali ia duduk-duduk disini jika pagi datang, saat bunga-bunga segar baru turun dari truk. Saat orang-orang—pasangan muda terutama—satu-satu datang dan asyik memilih bunga.

Bunggar tahu sebentar lagi pria gendut ini akan duduk di kursi depan toko, meletakkan setangkai mawar merah yang ia beli, lalu mengeluarkan sekantung gorengan. Rutinitas akhir pekan. Tak lama keringatnya sudah bercucuran karena untuk satu gorengan, akan ada sepuluh cabai rawit yang ia kunyah. Setelah pedas itu sudah tak sanggup ditanggung lidahnya, mulailah ia memanggil penjual teh botol.

Maka, Bunggar memulai lagi aksinya: mengawasi botol teh. Kapan air di botol itu habis dan kemana si empunya botol membuangnya.

KLONTANG!

Si pria gendut sudah membuangnya. Bunggar langsung berdiri, berjalan tertatih-tatih, lalu pelan memungut botol di pinggir kursi. Ia kembali berjalan ke serambi toko, memasukkan botol pertamanya hari itu ke karung. Kemudian ia kembali duduk, memerhatikan keramaian. Wangi bunga semerbak lewat di hidungnya. “Pria gendut itu akan pergi setelah ini,” batin Bunggar.

“Air bang!” Si pria gendut membeli air lagi. Bunggar memiringkan kepala, heran. Tak aneh bukan? Mungkin ia sedang amat haus. 

Sebentar kemudian botol itu sudah kosong dan tergeletak di atas kursi. Pria itu sudah berjalan pergi dengan setangkai mawar merah di tangannya. Bunggar kembali berdiri, berjalan tertatih, memungut botol.

“Ia sengaja meninggalkan botol itu untukmu. Itu sedekah pertamanya.” Bunggar menegakkan badan, si pria berjubah sudah berdiri didepannya. Kursi toko itu sudah tak ada, juga toko bunga, juga si penjual bunga. Kerlap-kerlip cahaya menemani Bunggar lagi.

Hanya wangi ini yang masih dirasanya.

“Aku sudah menurunkanmu tadi. Tak ada apa-apa bukan?” Bunggar baru akan bertanya bagaimana ia bisa turun dari si hewan tunggangan. 

“Dulu, tak pernah ia menjulurkan tangan untuk sedekah. Baginya tiap receh itu harus didapat dengan usaha, dengan jerih. Pria gendut itu sudah jadi orang paling banyak berderma di kotanya kini. Ia amat gemar berbagi dan seperti yang Tuhan janjikan, kebaikan itu berbalas berlipat-lipat. Sekarang ia bertambah subur. Subur dalam arti sebenarnya,” ucap si pria berjubah lagi, tertawa kecil.

“Lalu, amal jariyah berdatangan tak kenal pagi-siang padanya. Dan padamu.”

Bunggar manggut-manggut sok mengerti. Ia sebenarnya lebih ingin tahu dari mana asal wangi ini. Suka sekali ia menghirupnya dalam-dalam.

“Kau suka wanginya?” tanya si pria berjubah.

Bunggar mengangguk.

“Memang tak ada yang lebih wangi dibanding amal. Bukalah karung yang kau terima tadi karena ia berisi amal-amalmu. Juga lihatlah surga didepanmu karena ia tersusun dari amal-amal makhluk-Nya.”

Bunggar memutar badannya ragu. Kearah petak persegi panjang didepannya—yang tadi bersinar silau—dengan wangi semerbak yang tak pernah Bunggar cium sebelumnya.

“Lalu, apa yang telah kau lakukan seumur hayatmu? Kau pikir hidupmu tak berarti?

“Wahai Bunggar, bahkan sehelai daun yang gugur pun punya makna dalam hidup. Tuhan tak pernah bermain-main dalam penciptaan-Nya.

“Dan kau adalah ciptaan-Nya.”

* * *

Di bawah pohon besar, tubuh Bunggar makin membusuk. Perlahan rangka itu hilang bersama gugurnya daun dan membuat makna baru untuk kehidupan.

* * * * *

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ayo, Ceritakan Liburanmu!

Ma, Ini Surat Cintaku!

Cuilan Kisah Masa Bocah (5) : Aku Sudah Berkepala Dua