Postingan

Cuilan Kisah Masa Bocah (6): Batu Terang

Seringkali kenangan-kenangan kecil dapat jadi peneman sunyi hati, peneguh iman, dan penguat juang. Masa inilah satu penentu penting pribadi kita kini. Bertumbuk-tumbuk memori baru datang, janganlah lekangkan kisah-kisah kanak kita. Beranjak dari lampaulah, maka saat ini jadi lebih berarti.... * * * Jika orang dewasa terpukau dengan berkilaunya Akik, aku diwaktu bocah cukup bahagia dengan adanya batu terang. Ya kami menyebutnya batu terang, batu yang jika diterawang akan meneruskan sinar. Entah apa nama umumnya.  Batu yang menarik dan punya daya hipnotis yang membuai bocah ingusan agar mendekapnya terus sepanjang malam. Dan itulah aku dengan batu-batu ajaib. Apa kau pernah mendengar nama “batu terang”? Atau malah pernah melihatnya? Menggenggamnya? Batu ini hanya seukuran kelereng yang jika dilempar kembali diantara tanah hitam kau akan sulit merabanya. Seringkali batu jenis ini tersebar diantara ribuan kerikil atau batu kali. Bentuknya asimetr...

Nada Hujan

Gambar
"Rintik hujan itu sendu. Aku menyukainya hingga ke lubuk hati. Kau dengar? Suaranya amat menenangkan. Anginnya sejuk. Semua beban serasa terangkat." Aku bergelung pada badanku, mendekap tanganku yang dingin sedari hujan turun malam tadi. Ia hanya melirikku sebentar, lalu menatap lagi butir air di kaca jendela. "Kau yakin? Bahkan saat petir menggelegar dan angin bertiup kencang?" Aku menggangguk. "Tidakkah kau pernah dengar pepatah 'Badai pasti berlalu'? Sekencang apapun badainya, semua akan mereda. Sekeras apapun aral yang kau hadapi, pada akhirnya semua akan membaik. Tinggal bagaimana kau menanggapinya," timpalku. "Itu judul lagu sayang, bukan pepatah." Ia tertawa kecil. Lalu bersandar manja pada pundakku. "Maukah kau menjadi rintik hujanku?" tanyaku berbisik padanya. Ia mengangguk. ***

Aku Tahu, Alunan Itu Suara Surga!

Tiap kali aku bertanya pada Ayah, “Apakah aku tampan, Ayah?” Ayah akan menjawab, “Ya, anakku.” “Dari mana ayah tahu? Ayah kan laki-laki? Kurasa laki-laki tak akan tahu bagaimana wajah yang tampan.” Ayah mengelus rambutku pelan. Kepalaku masih bersandar di dadanya, amat terdengar detak jantungnya yang masih berdegup tak kenal lelah. Degup aliran darah orang yang rela berbuat apapun demi keluarganya. “Ibumu yang bilang. Berkali-kali ia bilang kalau kau adalah laki-laki paling tampan di dunia.” Aku tersenyum senang. Walau kalimat itu sering diucapkan ayah atas balasan jawaban pertanyaanku, nada suara teguh ayah selalu membuatku tenang. Percaya. Kemudian biasanya aku terdiam lama, menikmati belaian tangan ayah, menghirup aroma khas tubuhnya sehabis mandi. Bukan, bukan aroma sabun batangan murah yang dibelinya di warung kelontong depan rumah . Tapi, aroma tubuh yang menghidupiku sampai saat ini. Tubuh yang amat bertanggung jawab. Kali ini aku bertanya lebih,...

Namanya Keling

Kami memanggilnya Keling. Orangnya pendiam, kecil, ceking, hanya berbalut kulit legam tanpa daging. Badannya tak pernah berbaju, sekalipun. Jadi rusuknya yang kering tertonton kemana-mana tiap ia berjalan di depan rumah-rumah kami. Bukan seperti bapak-bapak berperut buncit yang berjalan bangga menonjolkan bulat perutnya tanpa baju, Keling selalu berjalan tertunduk. Tapi walaupun selalu menatap tanah saat berjalan, kakinya tak pernah lurus berjalan,   terantuk-antuk. Seringkali sampai terjatuh. Itu karena kakinya pun tak pernah beralas, sekalipun. Kata orang-orang, Keling tak berpendidikan. Jadi kau tak boleh dekat-dekat dengannya. Orang yang tak bersekolah hanya akan merusak otak. Sekali kau bertukar pikiran dengannya, akal cerdasmu akan langsung mengerut, lapuk mengering. Rumah kecil Keling yang berdinding papan berdiri diantara rimbun ilalang halaman yang tak pernah dipangkas, persis di depan sekolah. Tinggi gulma-gulma disana bahkan bisa menyembunyi...